PORTALBANUA.COM,-BANJARMASIN, Tarawih merupakan ibadah salat sunnah yang menjadi ciri khas bulan Ramadan. Salat ini dikerjakan pada malam hari sebagai bentuk qiyam Ramadan, yakni menghidupkan malam dengan ibadah, doa, dan bacaan Al-Qur’an.
Di banyak daerah, tarawih identik dengan suasana masjid yang ramai, namun pelaksanaannya juga sah bila dilakukan sendiri di rumah.
Keutamaan tarawih ditegaskan dalam hadis Nabi Muhammad SAW yang menyebut bahwa orang yang menunaikan qiyam Ramadan dengan iman dan penuh harap pahala akan mendapat ampunan atas dosa-dosa yang telah lalu.
Salat tarawih biasanya ditutup dengan salat witir sebagai penutup ibadah malam. Witir sendiri bukan ibadah khusus Ramadan, tetapi pelaksanaannya sering digabung setelah tarawih karena dianggap sebagai pelengkap qiyamul lail.
Waktu Pelaksanaan Sholat Tarawih
Sholat tarawih dimulai setelah sholat Isya dan berakhir sebelum masuknya waktu Subuh. Ini berarti ada jeda waktu yang cukup panjang untuk menunaikannya, baik di awal malam usai Isya maupun di tengah malam sebelum sahur.
Penting untuk dicatat bahwa batas akhir sholat tarawih adalah masuknya waktu Subuh. Jika waktu Subuh telah tiba, maka sholat tarawih tidak lagi sah untuk dikerjakan.
Oleh karena itu, bagi yang ingin mengerjakan tarawih di akhir malam—misalnya setelah tahajud—perlu memastikan waktu masih mencukupi sebelum fajar menyingsing.
Sholat tarawih pada dasarnya adalah bentuk sholat malam (qiyamul lail) yang dilakukan khusus di bulan Ramadan. Inilah yang membedakannya dari sholat tahajud, meski keduanya sama-sama merupakan ibadah malam yang sangat dianjurkan.
Berapa Rakaat Sholat Tarawih?
Inilah pertanyaan yang sejak dulu mengundang diskusi di kalangan ulama. Tidak ada hadits yang secara tegas menyebutkan jumlah rakaat tarawih yang dilakukan Nabi SAW.
Hadits dari Aisyah RA hanya menyebut bahwa Rasulullah tidak pernah melampaui 11 rakaat, baik di bulan Ramadan maupun di luar Ramadan.
Dari situlah para ulama berbeda pendapat, dan perbedaan ini sejatinya adalah rahmat—bukan perpecahan.
1. Pendapat 20 Rakaat (Mayoritas Ulama)
Mayoritas ulama dari empat mazhab besar—Hanafi, Maliki, Syafi’i, dan Hanbali—menetapkan 20 rakaat sebagai jumlah tarawih, di luar witir.
Imam An-Nawawi dari mazhab Syafi’i menegaskan bahwa jumlahnya adalah 20 rakaat dengan 10 kali salam. Pendapat ini juga berdasarkan praktik yang dilakukan oleh Umar bin Khattab RA dan para sahabat setelahnya.
2. Pendapat 8 Rakaat
Sebagian ulama, termasuk sebagian dari mazhab Hanafi, merujuk langsung pada hadits Aisyah yang menyebut Nabi tidak melebihi 11 rakaat (termasuk witir), sehingga tarawihnya menjadi 8 rakaat.
3. Pendapat 36 Rakaat
Sebagian ulama mazhab Maliki menyebutkan 36 rakaat berdasarkan praktik sebagian ulama salaf di Madinah.
Meski berbeda-beda, yang paling penting bukanlah mana yang paling banyak atau sedikit, melainkan kekhusyukan dan keikhlasan dalam mengerjakannya. Masing-masing pendapat memiliki dasar yang kuat dan layak dihormati.
Niat Sholat Tarawih
Niat adalah rukun pertama sholat yang tidak boleh terlewat. Berikut bacaan niat sholat tarawih sesuai posisi masing-masing:
Niat sebagai Makmum (Berjamaah) — 2 rakaat:
اُصَلِّى سُنَّةَ التَّرَاوِيْحِ رَكْعَتَيْنِ مُسْتَقْبِلَ الْقِبْلَةِ مَأْمُوْمًا ِللهِ تَعَالَى
Ushalli sunnatat taraawiihi rak’ataini mustaqbilal qiblati ma’muuman lillahi ta’aalaa
Artinya: “Aku niat sholat sunnah tarawih dua rakaat menghadap kiblat sebagai makmum karena Allah Ta’ala.”
Niat sebagai Imam (Berjamaah) — 2 rakaat:
اُصَلِّى سُنَّةَ التَّرَاوِيْحِ رَكْعَتَيْنِ مُسْتَقْبِلَ الْقِبْلَةِ إِمَامًا ِللهِ تَعَالَى
Ushollii sunnatat-taraawiihi rok’ataini mustaqbilal qiblati adā’an imaaman lillaahi ta’alaa
Artinya: “Aku niat sholat sunnah tarawih dua rakaat menghadap kiblat sebagai imam karena Allah Ta’ala.”
Niat Sendiri (Munfarid) — 2 rakaat:
اُصَلِّى سُنَّةَ التَّرَاوِيْحِ رَكْعَتَيْنِ مُسْتَقْبِلَ الْقِبْلَةِ ِللهِ تَعَالَى
Usholli sunnatattarowihi rok’ataini mustaqbilal qiblati lillahi ta’ala
Artinya: “Aku niat sholat sunnah tarawih dua rakaat menghadap kiblat karena Allah Ta’ala.”
Niat Sholat Witir
Setelah selesai menunaikan seluruh rakaat tarawih, rangkaian ibadah malam ini ditutup dengan sholat witir. Witir berarti ganjil, dan itulah prinsipnya—jumlah rakaatnya harus selalu ganjil. Umumnya di bulan Ramadan, witir dikerjakan 3 rakaat.
Niat Sholat Witir 3 Rakaat:
اُصَلِّى سُنًّةَ الْوِتْرِ ثَلاَثَ رَكَعَاتٍ مُسْتَقْبِلَ الْقِبْلَةِ اَدَاءً مَأْمُوْمًا ِللهِ تَعَالَى
Ushallii sunnatal witri tsalaasa roka’aatin mustaqbilal qiblati adaa’an (ma’muman/imaman) lillaahi ta’alaa
Artinya: “Aku berniat sholat witir tiga rakaat menghadap kiblat sebagai (makmum/imam) karena Allah Ta’ala.”
Niat Sholat Witir 1 Rakaat:
اُصَلِّى سُنًّةَ الْوِتْرِ رَكْعَةً مُسْتَقْبِلَ الْقِبْلَةِ اَدَاءً مَأْمُوْمًا ِللهِ تَعَالَى
Ushallii sunnatal witri rak’atal mustaqbilal qiblati adaa’an (ma’muman/imaman) lillaahi ta’alaa
Artinya: “Aku berniat sholat witir satu rakaat menghadap kiblat sebagai (makmum/imam) karena Allah Ta’ala.”
Niat Sholat Witir 2 Rakaat (sebelum 1 rakaat penutup):
أُصَلِّى سُنَّةً مِنَ الْوِتْرِ رَكْعَتَيْنِ لِلّٰهِ تَعَالَى
Ushallii sunnatam minal witri rak’ataini lillaahi ta’alaa
Artinya: “Aku niat sholat sunnah witir dua rakaat karena Allah Ta’ala.”
Tata Cara Sholat Tarawih
Tata cara sholat tarawih pada dasarnya sama dengan sholat sunnah lainnya—diawali niat dan takbiratul ihram, diakhiri salam.
Sholat tarawih dikerjakan dua rakaat per dua rakaat dengan salam di setiap dua rakaatnya. Berikut urutan lengkapnya:
- Membaca niat sholat tarawih sesuai posisi—sebagai makmum, imam, atau sendiri.
- Takbiratul ihram sambil melafalkan “Allahu Akbar” dengan penuh khidmat.
- Membaca doa iftitah.
- Membaca Surah Al-Fatihah.
- Membaca salah satu surah dari Al-Qur’an. Dianjurkan memilih surah-surah pendek agar tidak memberatkan jamaah.
- Rukuk dengan tumaninah (tenang dan tidak tergesa-gesa).
- I’tidal dengan tumaninah.
- Sujud pertama dengan tumaninah.
- Duduk di antara dua sujud dengan tumaninah.
- Sujud kedua dengan tumaninah.
- Duduk sejenak (duduk istirahat) sebelum berdiri untuk rakaat kedua.
- Berdiri dan mengerjakan rakaat kedua dengan urutan yang sama seperti rakaat pertama.
- Tasyahud akhir, kemudian salam pada akhir rakaat kedua.
- Istighfar dan membaca doa setelah sholat tarawih (dianjurkan membaca doa kamilin).
- Ulangi rangkaian ini hingga mencapai jumlah rakaat yang dituju—8 atau 20 rakaat.
- Setelah seluruh rakaat tarawih selesai, lanjutkan dengan sholat witir.
Tata Cara Sholat Witir
Sholat witir menutup seluruh rangkaian ibadah malam di bulan Ramadan. Rasulullah SAW bahkan mewasiatkan agar menjadikan witir sebagai sholat terakhir di malam hari.
Dalam witir tiga rakaat yang dikerjakan dengan dua kali salam, surah yang dianjurkan adalah:
- Rakaat pertama (dari 2 rakaat): Surah Al-A’la
- Rakaat kedua (dari 2 rakaat): Surah Al-Kafirun
- Rakaat ketiga (1 rakaat penutup): Surah Al-Ikhlas, Al-Falaq, dan An-Nas
Berikut tata cara sholat witir:
- Membaca niat sholat witir sesuai jumlah rakaat yang akan dikerjakan.
- Takbiratul ihram.
- Membaca doa iftitah.
- Membaca Surah Al-Fatihah diikuti surah yang dianjurkan.
- Rukuk dengan tumaninah.
- I’tidal dengan tumaninah.
- Sujud pertama dengan tumaninah.
- Duduk di antara dua sujud dengan tumaninah.
- Sujud kedua dengan tumaninah.
- Untuk 3 rakaat dengan 2 salam: salam setelah rakaat kedua, lalu berdiri untuk mengerjakan 1 rakaat terakhir dengan niat witir 1 rakaat.
- Pada rakaat terakhir (rakaat witir), dianjurkan membaca qunut sebelum rukuk atau setelahnya.
- Tasyahud akhir, kemudian salam.
Doa Setelah Sholat Witir
Setelah salam witir, terdapat doa yang dianjurkan untuk dibaca. Doa ini merangkum permohonan yang menyeluruh—dari keimanan, ilmu, hingga kesehatan jiwa dan raga.
Bacaan Doa Setelah Witir:
سُبْحَانَ الْمَلِكِ الْقُدُّوْسِ (3x)
اَللّٰهُمَّ إِنَّا نَسْـأَلُكَ اِيْمَانًا دَائِمًا، وَنَسْأَلُكَ قَلْبًا خَاشِعًا، وَنَسْأَلُكَ عِلْمًا نَافِعًا، وَنَسْأَلُكَ يَقِيْنًا صَادِقًا، وَنَسْأَلُكَ عَمَلاً صَالِحًا، وَنَسْأَلُكَ دِيْنًا قَيِّمًا، وَنَسْأَلُكَ خَيْرًا كَثِيْرًا، وَنَسْأَلُكَ الْعَفْوَ وَالْعَافِيَةَ، وَنَسْأَلُكَ تَمَامَ الْعَافِيَةِ، وَنَسْأَلُكَ الشُّكْرَ عَلَى الْعَافِيَةِ، وَنَسْأَلُكَ الْغِنَاءَ عَنِ النَّاسِ.
اَللّٰهُمَّ رَبَّنَا تَقَبَّلْ مِنَّا صَلاَتَنَا وَصِيَامَنَا وَقِيَامَنَا وَتَخُشُّعَنَا وَتَضَرُّعَنَا وَتَعَبُّدَنَا وَتَمِّمْ تَقْصِيْرَنَا يَا اَللهُ يَا اَللهُ يَا اَللهُ يَا اَرْحَمَ الرَّحِمِيْنَ.
وَصَلَّى اللهُ عَلَى خَيْرِ خَلْقِهِ مُحَمَّدٍ وَعَلٰى اٰلِهِ وَصَحْبِهِ اَجْمَعِيْنَ، وَالْحَمْدُ لِلّٰهِ رَبِّ الْعَالَمِيْنَ.
Latin:
Subhaanal malikil qudduus (3x)
Allaahumma innaa nas’aluka iimaanan daaimaan, wa nas’aluka qalban khaasyi’an, wa nas’aluka ‘ilman naafi’an, wa nas’aluka yaqiinan shaadiqan, wa nas’aluka ‘amalan shaaliihan, wa nas’aluka diinan qayyiman, wa nas’aluka khairan katsiiran, wa nas’alukal ‘afwa wal’aafiyata, wa nas’aluka tamaamal ‘aafiyati, wa nas’alukasy-syukra ‘alal ‘aafiyati, wa nas’alukal ghinaa’a ‘aninnaasi.
Allaahumma rabbanaa taqabbal minnaa shalaatanaa wa shiyaamanaa wa qiyaamanaa wa takhusysyu’anaa wa tadharru’anaa wa ta’abbudanaa wa tammim taqshiiranaa yaa allaahu yaa allaahu yaa allaahu yaa arhamar raahimiin.
Wa shallallaaahu ‘alaa khairi khalqihi muhammadin wa’alaa aalihi wa shahbihi ajma’iin, walhamdu lillaahi rabbil ‘aalamiin.
Artinya:
“Wahai Allah, sesungguhnya kami memohon kepada-Mu keimanan yang kokoh, hati yang khusyuk, ilmu yang bermanfaat, keyakinan yang tulus, amal yang saleh, agama yang lurus, kebaikan yang melimpah, ampunan dan keselamatan, kesehatan yang sempurna, rasa syukur atas kesehatan tersebut, dan kecukupan dari bergantung kepada sesama manusia.
Wahai Allah, Tuhan kami, terimalah sholat, puasa, ibadah malam, kekhusyukan, kerendahan hati, dan pengabdian kami. Sempurnakan segala kekurangan kami, wahai Allah, wahai Allah, wahai Allah, wahai Dzat yang paling Maha Penyayang di antara para penyayang.
Semoga rahmat Allah tercurahkan kepada sebaik-baik makhluk-Nya, Muhammad, beserta keluarga dan seluruh sahabatnya. Segala puji hanya milik Allah, Tuhan seluruh alam.”
adh/tim